puisi-perpisahanTerkadang kenyataan lebih perih dan pedih untuk dirasakan dari apa yang telah diilusikan sebelumnya, namun itulah kenyataan. Kenyataan terkadang memutuskan dan menghentikan kebahagiaan. Jika memang kita menemui kenyataan yang sesuai dengan apa yang telah kita impikan, itu bukan hanya sebatas hal yang kebetulan, namun lebih dari itu merupakan peristiwa yang fantastik dan unik, karena sebetulnya kenyataan dan kebahagiaan tidak cukup dan memang tidak untuk didefiniskan. Tatkala kenyataan yang mengiringi dibelakangnya adalah sebuah kebahagiaan saja tanpa adanya batu sandungan yang akan dapat menjadi batu loncatan dari pendedasan dimensi-dimensi kehidupan, tentu menurut saya tidak mempunyai warna yang indah kehidupan yang sedang dan akan dijalani kelak.

Mengapa pelangi nan indah datang mengiringi perginya gemuruh petir dan hujan, karena itu sebuah fenomena alam yang menunjukkan dan membuktikan bahwa terdapat sebuah kebahagiaan di balik kenyataan yang mengerikan. Di balik awan yang mendung tentu terdapat gemintang yang menyinari keheningan malam tiada tara, hal itu menunjukkan betapa berharganya sebuah penantian panjang, menanti hilangnya kehampaan dalam jiwa angkasa membuncah. Di balik kulit buah durian terpampang buahnya yang aduhai lezatnya. Ini merupakan kenyataan yang tak sesuai dengan hanya mengilusikannya belaka, yang membutuhkan sebuah pendefinisian yang tanpa batas.

Jika pelangi datang dan muncul di malam hari tentu akan tetap indah, namun tidak sesuai dengan keadaan dan kenyataan dimensi-dimensi otentik dan arti dari sebuah keheningan malam. Tatkala bintang berada di tengah terik matahari tentu akan memperindah penglihatan ketika pandangan ini terpaku pada langit, namun terdapat cahaya yang lebih besar menyinari penglihatan kita, matahari tepatnya. Apabila kulit durian lebih nikmat jika dipandang dan disajikan tentu akan membahana kulit dari buah durian itu, namun kita tidak dapat menyadari dan memahami dari sebuah pendefinisian norma-norma akan hasil dari sebuah kepahitan.

Inilah kenyataan yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang telah kita definiskan dan kita ilustrasikan. Tuhan menciptakan makhluk-makhlukNya dengan berpasang-pasangan, dan dapat juga disebut dengan berlawan-lawanan, yang sudah barang tentu mempunyai konsekuensi yang mesti kita jalani dan lalui, karena kita telah menempuh sebuah lorong yang menyimpan tanya dan resiko sekian banyak. Setiap tindakan dan keharmonisan akan tetap mempunyai nilai nestapa dan menista di mana pun itu serta bagaimana pun itu. Sekarang jelas berbeda dengan masa lalu dan akan datang harapan kita, namun itu semua bukan merupakan argumen kelegalan yang bermerk ‘halal’ atas tindakan kita yang menyesali dan menghujat masa lalu karena tidak sesuai dengan eksperimen serta pelontaran bola keajaiban bermanterakan ‘abah kadabrah’ yang tidak sesuai dengan kenyataan kita saat ini. Seperti halnya ‘manisnya estetika pertemuan dan pedihnya esensi perpisahan’, mungkin pernyataan itu titik tekan pada celotehan saya kali ini.

Mengapa mesti ada pertemuan jikalau perpihasan yang merobek kebahagiaan dari sebuah tanya tentang indahnya estetika pertemuan, saya pun tidak mengetahui itu. Mungkin hal semacam ini dapat dikembalikan pada konsep awal yang telah kita bangun, ‘Tuhan, yaa, Tuhan’ yang telah menciptakan makhlukNya dengan berpasang-pasangan yang pada awalanya saling berlawanan. Terkadang mungkin bukan hanya sekedar terkadang, namun merupakan keharusan dan dan kepastian yang berlawanan tentang manisnya kata pertemuan dan pahitnya kata perpisahan. Perpisahan merupakan ‘salah satu’ kata yang berstatus konsekuensi dari kata pertemuan, yang mesti dan mau tidak mau akan menjangkiti ‘kelamin-kelamin’ insentif dari peristiwa dan dialektika antara objek dan subjek kata-kata itu. Tak mengerti mana yang dapat dikatakan objek dan yang dapat dikatakan subjek, yang jelas keduanya mempunyai keterkaitan unsur yang sangat erat dan ‘tabiat’.

Menjalankan resiko yang menjadi konsekuensi kata ‘pertemuan dan perpisahan’ memang bukan semudah dan seindah kenyataan membalikkan telapak tangan belaka, namun jika dihayati dan renungi perpisahan itulah titik koordinat yang luar biasa dahsyatnya tentang indahnya estetika pertemuan. Memang kita sadari bersama bahwa perpisahan akan memutuskan tali kebahagiaan yang telah bersemi dan menyambung tatkala pertemuan terjadi, namun yang semestinya kita pahami bukan hanya dan sampai pada titik itu saja, namun dari sudut lain, sudut yang lebih indah dan sering diremehkan karena butanya kita dengan pahitnya peerpisahan.

Membuat kita sadar dan merasakan akan berharganya nilai dari sebuah pertemuan yang tentunya dari pertemuan itu akan berbuah kepemilikan kita, ‘mumpung masih ada di sisi kita mari kita rasakan keindahannya’, begitu kata yang lebih esensial dan vulgarnya mungkin.

Pertemuan merupakan awal dari kenyataan, dan perpisahan merupakan induk dari kenyataan terakhir, itulah kenyataan akhir yang tak seindah kenyataan awal mula kita. Namun yakin kenyataan terkahir itu merupakan peristiwa yang terbaik bagi kita, dari kulit buah durian yang akan mengenyam manisnya esensi dari buah durian itu. Penyesalan pasti ada, namun itulah kenyataan yang berada di luar batas nalar yang telah mengiang dan mengilusi pada kelopak mata hati serta pikiran kita. Jangan sesali sebuah perpisahan, karena awal dari perpisahan merupakan pertemuan yang kita kagumi dan memberikan kebahagiaan pada titik koordinat galaxi-galaxi semesta jiwa ini.

About these ads