Kemaksiatan didunia ini adalah bagaikan kacang yang bertaburan dinampannya. Namun apakah peduli kita dengan semua itu, sesungguhnya ketika kita melakukan sesuatu hal keburukan itu hakikatnya kembali pada diri kita sendiri. Yang perlu kita ketahui bersama yakni segala sesuatu pasti terdapat sebab dan akibatnya, apakah sebab kita malakukan bermasiat, dan apakah akibat jika kita melakukan itu semua..??

Sudah selayaknya kita contoh bagaimanakah kehidupan lebah. Kita ketahui bersama bahwasannya lebah adalah sekelompok binatang yang tidak dikaruniai fikiran dan sebagainya seperti sebagaimana yang telah dikaruniakan kepada manusia. Namun mengapa lebah patut kita jadikan contoh..?? karena dalam kehidupan lebah mereka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan mengambilnyapun dari sesuatu hal yang bermanfaat pula.

Selain itu, lebah juga mampu untuk mengambil madu dari bunga-bunga walaupun bunga-bunga itu berada ditempat-tempat yang terdapat sampah sekalipun. Lebah mampu mengambil hal yang baik didalam lingkungan yang buruk sekalipun, lebah mampu mengambil sesuatu yang bermanfaat dari lingkungan yang penuh dengan keburukan sekalipun.

dan begitupun kita sebagai manusia yang telah dikarunia kelebihan dan kemuliaan diantara makhluk-makhluk_Nya yang lain. Lalu mengapa lebah lebih dapat memenej kehidupan mereka ketimbang kita semua..?? Apakah yang salah dari kita..??. Ini adalah ungkapan-ungkapan yang manjadi tanda tanya yang besar bagi kita semua, dan mesti kita mendapatkan jawabannya.

Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, kita melihat bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan;

Golongan pertama adalah manusia dan lingkungan. Manusia-manusia ataupun hati-hati yang cinta kebaikan. Gemar melakukan kebajikan. Suka dalam menjalani kema’rufan.

Golongan kedua adalah manusia-manusia dan lingkungan yang cinta kejelekan. Gemar melakukan keburukan. Suka dalam menjalani kemunkaran, kemaksiatan serta dosa. Demikianlah lingkungan yang menjadi faktor utama dalam mempengaruhi kinerja hati sebagai meneger tingkah laku dan amaliyah kita.

Ingat.!! Allah Swt telah memberikan peringatan kepada kita dengan tegas nan jelas mengenai hal ini, bahwa musibah akan terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, tidak hanya menimpa para pelakunya saja tapi akan menyeluruh kepada masyarakat sekitarnya. Allah menyatakan dalam Al-Qur’an yang artinya :

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (musibah, petaka, bencana, siksa) yang benar-benar tidak hanya menimpa orang-orang dhalim di antara kalian secara khusus. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha dahsyat siksa-Nya.” (Al-Anfal:25)

Subhanallah sungguh peringatan yang Allah berikan bukanlah sebuah omong kosong yang tidak akan mampu untuk terjadi,  yang tak mungkin terlaksana, sungguh janji Allah adalah sebenar-benar janji dan pasti terjadi, musibah pasti akan datang silih berganti,  petaka pasti akan menimpa kita semua, bencana pasti akan terjadi di sana-sini, siksa Allah pasti akan meluluhlantakkan bumi pertiwi ini, bila kemunkaran dilakukan, bila maksiat dibiarkan dan digalangkan, bila dosa diacuhkan, bila pelakunya diagungkan, bila perbuatannya didukung dan dikendalikan, sungguh musibah akan menimpa diri kita semua.

Lalu bagaimana dengan diri kita, yang mengaku para pecinta kebenaran, para pendukung kema’rufan, para penggemar kebajikan, para pelaku kebaikan. Apakah kehidupan kita sudah terlepas dari kemunkaran..?? Apakah amal baik kita sudah terbebas dari dosa-dosa dan kesalahan..?? Apakah tingkah laku kita sehari-hari sudah murni tanpa kesalahan dan keburukan..?? Sungguh naif bila kita mengaku sebagai pasukan pembasmi kemunkaran bila justru diri kita terjerumus dalam dosa dan maksiat.

Sungguh jelek bila kita mengaku cinta kema’rufan bila diri kita masih terlena dengan bujuk rayu wanita dan harta. Sungguh dzalim bila kita mengaku gemar melakukan kebajikan bila diam-diam kita menjalani kejelekan dan keburukan. Atau bahkan justru kitalah yang menjadi kunci atas turunnya musibah dan bencana, karena kita tahu dan berilmu tapi justru kita melanggar dan melakukan maksiat. Kita tidak mengamalkan ilmu yang kita peroleh dari guru-guru kita.

Teramatlah banyak pertanyaan-pertanyaan serta ungkapan-ungkapan mengenai hal yang demikian, lalu apakah kita akna berdiam diri saja dengan itu..?? tentu sebagai Muslim, kita harus berani dan mampu untuk mengetakan TIDAK.

Memang manusia sulit untuk terlepas dari lupa dan salah, sulit bagi manusia untuk terbebas dari kejelekan dan keburukan. Kecuali bagi mereka yang Allah lindungi. Mereka yang diberi Rahmat oleh Allah. Mereka yang senantiasa ingat kepada Allah. Mereka yang selalu menjaga diri dari keburukan dan kejelekan sekecil apapun.

Sungguh indah nasehat Ulama salaf kita ini, demikian bunyinya,

لاَ تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيْئَةْ

وَلكِنْ اُنْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْتَهْ

Janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu kesalahan. Akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat….

Subhanallah sungguh indah nasehat ini bukan..??

Kepada kita yang cinta kema’rufan. Kepada kita yang benci kemunkaran. Semoga kehadiran nasehat ulama salaf di atas dapat menjadi renungan kita semua yang mengaku sebagai laskar kalimat Lailaha illallah muhammadurrasulullah.

Janganlah kita melihat akan kecilnya suatu dosa. Janganlah kita melihat akan remehnya suatu kesalahan. Janganlah kita melihat akan sepelenya suatu maksiat. Sekali-kali jangan. Namun lihatlah kepada siapa kita bermaksiat.

Allah, Dialah yang sedang kita maksiati. Allah, Dialah yang sedang kita durhakai. Allah, Dialah Dzat yang telah menciptakan kita. Justru kita malah sedang melanggar aturan-aturannya.

Mari kita lihat dan kita perhatikan, siapa yang sedang kita maksiati. Saudaraku semua. Astagfirullahal adzim min kulli dzanbil adzim.

Sudah sepantasnya bagi kita semua ya ikhwah untuk menjaga diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, negeri kita, dari kemaksiatan, dosa, keburukan, kesalahan, dan kemunkaran. Oelh karena itu mari kita mulai pada detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, tahun ini dan pada zaman kita ini.

Bismillahirrahmanirrahim, Allahu akbar.