Hati adalah segumpal daging yang mempunyai peranan sangat vital dalam kehidupan manusia, sebagaimana yang diungkapkan oleh sahabat Umar Bin Khattab, “pada diri manusia terdapat segumpal daging yakni Hati, dimana jika segumpal daging itu baik, maka baiklah pula perangai, tingkah laku orang tersebut, dan begitupun sebaliknya, jika segumpal daging iitu buruk maka buruklah pula tingkah laku orang tersebut”.

Sangatlah banyak ungkapan-ungkapan mengenai hal tersebut, hati juga dapat diibaratkan sebagai” Teko (tempat air), Jika apa yang terdapat didalam teko itu air yang murni bersih, maka teko itupun akan mengeluarkan air yang murni lagi bersih dan begitu juga sebaliknya,  jika teko itu mempunyai isi air kopi yang hitam legam, maka teko itupun akan mengeluarkan iair kopi yang hitam legam jua”.

Inilah ungkapan-ungkapan mengenai akan penting dan vitalnya peran hati didalam kehidupan kita ini, sehingga muncullah ungkapan “Walahum qulubun la yafqahuna biha” dan mereka dikaruniai Hati namun tidak dipergunakannya untuk berfikir.

Saudaraku, Allah telah ciptakan manusia ini dengan berbagai kemampuan yang kita semua miliki. Allah berikan banyak fasilitas yang ada pada tubuh manusia. Dengan tangannya, manusia mampu membuat sesuatu yang menakjubkan. Dengan otaknya, ia mencetuskan teori-teori pengetahuan yang begitu luar biasa. Denngan hatinya manusia dapat membedakan manakah hal yang baik dan manakah hal yang buruk.

Oleh karena itu, marilah kita amati dan cerna salah satu dari sekian kemampuan kita tersebut, yaitu kemampuan berpikir, melihat dan mendengar!

Saudaraku, Dalam sebuah ayat-Nya. Allah swt berfirman :

قُلْ هُوَ الَّذِيْ أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ

“Katakanlah! Dia (Allah) yang telah menciptakan kalian, dan Ia jadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati (pikiran). (namun) Amat sedikit yang kalian syukuri.”  Qs. Al-Mulk (67) : 23

Allah swt menyebut pendengaran dan penglihatan sebelum fikiran, karena demikianlah proses berfikir manusia. Ya,  melihat, mendengar lalu berfikir. Dan melihat, mendengar serta berpikir dalam ayat ini berkaitan dengan status kita di hadapan Allah kelak, saudaraku.

Sehingga muncullah ungkapan, “mengapa kita manusia dikaruniai satu mulut dan dua telinga dan dua mata, kerana kita manusia dianjurkan agar lebih banyak mendengar serta melihat lalu berfikir dari pada hanya berbicara”.

Bagaimana reaksi kita tatkala melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang amat banyak di sekitar kita?? Atau ketika kita mendengar ayat-ayat-Nya?? Dan bagaimana sikap kita saat Allah melimpahruahkan harta kepada kita?? Dan bagaimana sikap kita saat Ia “cicipkan” sedikit  Azab ataupun ujian_Nya yang berwujud musibah maupun cobaan??

Saudaraku, tak salah kalau sebuah pepatah Inggris mengatakan, “Heart is King” (hati adalah raja). Karena hati inilah yang menentukan segala perbuatan kita.

Oleh sebab itu kita harus tegas, cermat dan tepat dalam menaggapi hal yang demikian, dimanakah kita akan melabuhkan hati ini, jika kita telah mengetahui bagaimanakah resiko atupun keburukan jika kita salah langkah dalam melabuhkan hati kita ini.

Bila hati seseorang itu “berlabuh” kepada Allah ia selalu beribadah, berzikir dan berdo’a, ia tak pernah melupakan_Nya, niscaya ia menjadi hati yang lembut, baik dan meridhakan Pemeliharanya. Karena “Ala bidzikrillahi tathmainnul Qulub” Mengingat, mengenang, berdzikir padanya adalah jalan untuk memperoleh ketenangan hati.

Sebaliknya, hati yang selalu bermaksiat, lalai, meremehkan, bahkan berani menentang Allah atau enggan mendengarkan ayat-ayat suci_Nya, maka tak ubahnya ia adalah hati yang culas, jahat, buruk, yang selalu membuat murka Penciptanya. Dan itulah, hati yang ‘’berlabuh’’ kepada rayuan syaithan pujaanya. Padahal kita sangat mengetahui bahwasannya syaithan adalah musuh yang nyata bagi kita “Innahu lakum ‘aduwwummubin”.

Dan jika hati kita ini berlabuh pada syaithan yang tentunya berlandaskan dengan hawa nafsu, maka kita termasuk orang-orang yang terjerumus pada lembah kenistaan. “Innannafsa la amaratun bissu’ “, sesungguhnya nafsu itu menjerumuskan kita kedalam keburukan.

Saudaraku, kini sudah saatnya kita introspeksi diri, mengamati kondisi kita masing-masing. Mungkinkah kita terlampau jauh dari_Nya?? Dimanakah kita akan melabuhkan hati kita?? Di “pelabuhan’’ Allah-kah?? Atau di “pelabuhan” syaithan yang terkutuk??

Andaikan hati kita telah lama membengkok, marilah kita benahi dan luruskan kembali. Marilah kita mohon ampunan dari sisi_Nya, ridha dan rahmat_Nya serta belas kasih_Nya.

Saudaraku, Akhir kata, tiada air mata yang lebih mulia kecuali tatkala ia menetes karena menyesali segala dosa, tatkala kita bersimpuh, bertaubat atas “kebengkokan’’ hati kita selama ini.

” وَ اسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ “

‘’Dan mohonlah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’’ QS. Al-muzzammil (73) : 20

Wallahu a’lam bisshawaab.