Kematian adalah hak bagi semua makhluk. Dan kematianpun datang tanpa permisi. Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah memberi salam atau permisi pada orang yang akan datang ajalnya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Padahal jika kita mati, babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita bisa mempersiapkan diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu telah musnah sudah. Inilah ungkapan-ungkapan yang menyatakan bahwasannya kematian adalah hal yang benar adanya.

Kemudian apakah yang seharusnya kita perbuat untuk mempersiapkan ini semau..?? Apakah kita hanya berdiam diri saja dengan ini, menerima apa adanya tanpa adanya tindakan yang nyata..?? Bukan hal ini yang semestinya kita lakukan. Lalu apa..??

Sudah waktunya kita untuk segera beramal sebagai bekal kita kelak, jangan sampai kita menyesal nantinya. Al-Hasan berkata, “Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya. “

Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hayat kita ini, yaitu akhir hayat yang baik atau husnul khatimah dan akhir hayat yang buruk atau su’ul khatimah. Kedua seperti kita ketahui bersama hal ini sangatlah populer dikalangan kita umat muslim, namun apakah kita telah mengetahui secara jelas, apakah keduanya itu..??

Husnul khatimah adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Allah dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju kehusnul khatimahan itu. Dan ketaqwaan yang berwujud amal shalih itu adalah wujud dari keimanan kita.

Seperti contoh husnul khatimah yakni seseorang yang pada akhir hayatnya dalam memperjuangkan kalimat Allah Swt atau sesorang yang akhir amalannya dalam keadaan taat pada Allah Swt. Rasululloh Saw bersabda yang artinya: “Siapa saja yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illaLlaah’ pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah , maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka ia akan masuk surga. “(HR. Ahmad).

Sedangkan su’ul khatimah ialah apabila sewaktu akan mengalami sakaratul maut  seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras kepala atau bahkan ketergantungan terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka jahim secara kekal jikalau tidak dimaghfirah dan dirahmati oleh Allah. Kemudian apakah yang menyebabkan hal ini terjadi..??

Mungkin sebab-sebab su’ul khatimah secara ringkas antara lain adalah  perasaan ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan munkar, syirik, menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, bunuh diri dan masih sangat banyak yang lainnya.

Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di antara kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan, ” Barang ini murah. Barang pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang itu begitu….” dan begitu seterusnya hingga ai menjumpai ajalnyai.

Beliau menyebutkan pula bahwa terdapat seorang lelaki penggemar musik sedang dalam keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid,  Laa ilaaha illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu, “Naanana…naanana…” hingga ia menjumpai ajalnya.

Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai berikut, “Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca kalimat syahadat menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang justru mengingkari kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Ketika  kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia adalah peminum minuman keras” Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat, ” Takutlah kalian dari berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan dia seperti itu. “

Syaikh Al-Qahthany bercerita, ” Pernah aku memandikan mayat. Baru saja kumulai, mendadak warna kulit si mayat berubah menjadi hitam legam, padahal sebelumnya putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari tempat memandikan. Lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku bertanya,”Apakah mayat itu milikmu ?” Ia jawab, ” Ya,” Aku bertanya lagi, “Apa ia ayahmu?” Ia menjawab, ” Ya.” Aku bertanya, ” Kenapa ayahmu itu sampai begini?” Ia menjawab, ” Sewaktu hidupnya ia tidak shalat.” Maka aku katakan kepadanya, ” Urusi sendiri ayahmu, dan mandikanlah ia ! “

Ibnu Qayyim berkata, ” Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany bercerita pada kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di taman. Menjelang matahari tergelincir, ia meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bola api yang telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat. Dia usap-usap matanya seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau kenyataan. Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa hal ini suatu kenyataan. Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya menyuguhi makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah mencari tahu ke sana ke mari, akhirnya diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan penguasa yang zalim yang suka mamakan harta bukan haknya yang kebetulan mati hari itu.”

Subhanallah, sungguh sangat begitu mengerikannya ungkapan-ungkapan itu, kemudian apakah kita termasuk didalamnya atau sebaliknya..?? Jawaban ini hanya kita dan Allah sajalah yang mengetahui akannya.

Kita mohon perlindungan Alloh Swt dari su’ul khatimah. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti, apakah baik atau malah buruk. Karena itu hendak_Nya. Kewajiban kita sekarang adalah menginstropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita.

Orang-orang shalih terdahulu pun takut akan keburukan akhir hidup mereka. Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, ” Aku begitu takut kalau dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang celaka. Atau imanku lepas ketika akan menghadapi maut.”

Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha’i menangis seraya berkata, ” Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke syurga_Nya, ataukah malah ke neraka-Nya ?”

Ketika Abu ‘Athi’ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan. Orang-orang bertanya, ” Mengapa Anda ketakutan ?” Dia menjawab, ” Bagaimana mungkin aku tidak takut pada detik-detik seperti ini dan kemudian aku tidak mengetahuinya akan dibawa ke manakah aku, aku tidak tahu. ” Begitulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu. Walaupun sudah terkenal kesalehannya, namun tetap saja mereka takut akan kesu-ul khatimahan.

Lalu bagaimana dengan kita semua..?? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa takut akan su’ul khatimah..?? Sudah pantaskah kita tidak merisaukan hal ini, yang akan menimpa siapa saja tanpa terkecuali dengan seizin_Nya..?? Padahal mereka, para salafush shalih, yang tentu lebih baik agamanya dari kita pun masih merasa takut akan su’ul khatimah. Tentu lebih baik disisi Allah dibanding kita.

Kemudian apakah kita ingin mengalami akhir hayat yang termasuk dalam golongan husnul khatimah..?? Jika kita ingin menghadap_Nya dengan keadaan husnul khatimah dan tanpa su’ul khatimah, lalu apa yang harus dilakukan..?? Mari kita simak hadits berikut: Dari Ali bin Abu Thalib ra dari Nabi Saw, beliau bersabda, yang artinya: “Setiap diri yang telah dihembuskan nyawanya, maka Allah telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka” Lalu ada seorang shahabat yang bertanya, ” Ya Rasulullah, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada kita dan kita tidak usah beramal ?” Rasulullah Saw bersabda,” Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap apa yang telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang yang bahagia, maka Allah akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang bahagia. dan adapun yang termasuk orang-orang yang celaka, maka Allah akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang celaka.” Kemudian beliau membaca firman Allah: ” Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya pada jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (QS: Al-Lail: 5-10 )(HR: Al-Bukhary dan Muslim)

Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal shalih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman,  Allah Swt akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Allah Swt menghindarkan kita dari jalan yang dapat mengantarkan kita kedalam lembah kenistaan.

Tentu saja, beramal shalih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang jitu untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan menerapkannya dalam kehidupannya tentu ia akan bahagia. Maka sudah sewajarnya kita berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat bertanya, membaca buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di majelis pengajian. Wallahu ‘Alam.