Ketahuilah: ilmu pertama yang kau dapat, akan menjadi peganganmu menilai ilmu-ilmu berikutnya.

Itulah sebabnya, ketika para ulama belajar ilmu-ilmu buatan non-muslim, mereka tetap baik-baik saja. Karena ketika mereka menekuni ilmu-ilmu baru buatan manusia, telah tertanam Al-Qurandihati mereka, telah hafal hadits dan memahami bahasa Arab dengan sempurna.

Sehingga, ketika ada ilmu yang bersifat baru, Al-Quran dan Sunnah jadi penyaring yang sempurna. Bukan yang dikorbankan atau yang dikritik ini-itu sesuka hati dan sepengetahuannya saja.
Bandingkan dengan umat hari ini:

Belum lagi memahami secara kaffah Al-Quran dan Sunnah, telah berani dan mampu untuk menyimpulkan sebuah masalah, dengan kata lain menafsirkan dengan ilmu merreka yang kurang memadai.
Serta belum pula memahami secara benar hadits dan mengetahui asbabul wurud-nya, berkomentar bla-bla-bla tentang persoalan Islam.

Inilah tragedi, inilah fenomena: belajar ilmu-ilmu buatan non muslim diawal mula. Maka terjadilah fikiran yang  diformat dengan sesuatu yang datang bukan dari Ilahi. Bukan pula diajarkan uswah surgawi.

Akhirnya: alih-alih Al-Quran dan Sunnah menjadi parameter, Al-Quran dan Sunnah ini yang disesuaikan dengan zaman. Dianggap kurang dan mesti ditambahkan. Diartikan, walau umur masih tujuh belasan. Dua puluhan. Dianggap sama nilainya dengan makna-makna atau kutipan-kutipan terkenal.
Wallahu a’lam.

Bagaimana mungkin, kita katakan,
kalam Allah
lisan Rasulullah
dikomentari menggunakan ilmu hasil pemikiran manusia,

yang sama sekali tidak beriman
yang tidak memahami secara benar tentang Agama ini
dan tidak pula meniatkan ilmunya untuk menegakkan Islam.
Kemudian, denga sekonyong-konyong membalikkan perkataan:

Jika pisau disalahkan atas kasus pembunuhan,
bukankah itu hal yang tidak adil?

Betul. Itu hal yang bodoh, bahkan sangat konyol. Tapi menganalogikan ilmu dengan pisau adalah kebodohan yang berkelanjutan. Sebab pisau itu tidak mampu mempengaruhi manusia. Dia mati. Benda belaka. Dia tidak mengisi pikiran kita. Dia tidak membentuk pola pikir kita.

Sedang ilmu membuatmu mengangguk-angguk. Menuntunmu ke suatu arah.
Tapi, apakah arah itu arah yang benar?

Kau mulai asyik membuat pertanyaan-pertanyaan yang itu sesuai dengan logika menurut manusia. Lalu, dengan logika mencoba menentukan jawaban. Secara matematis, analisis, dan terkesan intelektual.
Mau tahu apa pendapat kami mengenai itu?

Baca kembali kisah Iblis. Kenapa ia diusir dari surga. Awalnya: karena termakan dan terpengaruh dengan pikirannya sendiri. Bahwa tanah itu tidak semulia api. Celakanya, dia percaya. Logika yang kesannya seakan-akan benar adanya, tapi melantur dan nyasar sejauh-jauhnya.

Inilah situasi di mana logika dikedepankan, sedang petunjuk dari Allah mengatakan: sujudlah pada Adam.
Lalu, Siapa pemilik kebenaran? Logika atau Allah Subhana wata’ala?

Ah, kami sampaikan sekarangt: Pada orang-orang yang mengaku sedang mengggagas debat logika dalam menentukan kebenaran.

Kau hanya menghidupkan budaya memaksimalkan pikiran. Sedang pikiran itu seperti halnya kaki kita, kau boleh saja perintahkan ia berjalan, tapi ke mana ia melangkah tidak boleh kau lupakan.

Bukan logika yang mengambil alih semua. Itu adalah urutan kedua. Setelah Warisan anbiya. Dengannya, kau memahami ilmu agama ini. Bukan menjadikannya inti dari agama ini….
Wallahu A’lam.