Memenangkan suatu pertandingan ataupun suatu perlombaan, yang pasti menuntut kita untuk menjadi sang juara, pasti pernah kita semua merasakannya dan kita pasti pernah mencoba untuk meraihnya, tidak dipungkiri pula, menjadi yang terbaik dikelas, atau disekolah dan sekalipun di Universitas-universitas pasti  kita semua lakukan , entah agar mendapat pujian dari orang lain , ataupun untuk terlihat pintar atau cerdas dimata teman-teman atau para guru, kita pun sering melihat di televisi ketika salah satu klub bola kesayangan kita sedang melakukan laga pertandingan melawan klub kebanggaan teman kita sendiri, terkadang kita mendukung dengan begitu kerasnya, sehingga tidak luput kata2 yang keluar dari mulut kita(maaf) awalnya merendahkan klub lain, sampai pada akhirnya merendahkan teman kita yang berbeda pilihan. Sungguh ironis sekali hanya gara-gara hal sepele, persahabatan yang dijalin selama bertahun-tahun, hancur hanya karena sebuah pertandingan yang itu bukan kita pelakunya, toh yang bertanding saja terlihat adem ayem dengan lawannya, bagaimana dengan kita..??

Banyak juga hal yang terjadi pada saat diskusi, atau rapat, yang dalam keduanya mengedepankan pemikiran-pemikiran atau masukan dari pribadi sendiri ataupun dari orang lain, dalam hal ini banyak sekali beberapa orang yang pastinya berbeda pendapat ketika memberi masukan atau memberi usulan kepada sang kepala sidang atau ketua kelompok, yang mungkin awalnya saling menimpali dengan penuh sopan-santun, ramah-tamah, dan yang pada akhirnya keluar juga caci maki dalam perbedaan pendapat tersebut, mereka merasa paling benar dalam ber-agumentasi, merasa bahwa argumen orang-orang disekelilingnya salah atau tidak benar sama-sekali.  Ini bukan hanya terjadi di media massa, tapi disekitar kita. Dan pelakunya bukan lagi anak-anak, tapi mereka yang sudah berkeluarga, beranak-pinak. Padahal yang sama itu belum tentu benar, dan yang berbeda itu belum tentu salah atau lebih rendah.

Ya berapa banyak dari kelompok-kelompok yang menyatakan bahwa bagian dari merekalah yang terbaik, tanpa memeperdulikan dengan siapa dia bermusuhan , dengan siapa dia berdebat. Sebagaimana kita ketahui, kita adalah manusia social(Homo Socius) yang tentunya dalam hidup ini saling membutuhkan dan saling melengkapi, jika kita merasa benar sendiri, bagaimana dengan orangtua kita yang telah mengajarkan kepada kita tentang kebenaran, dan mengajarkan tentang cara kita menghormati orang lain..??!!, Ingat bahwa usia bukan jaminan seseorang bias bersikap dan betindak secara dewasa, juga tingginya sekolah bukan jaminan seseorang bisa selalu bersikap dan bertindak bijak dalam mengambil sebuah kesimpulan. Sering-kali justru nafsunya yang berbicara, merasa paling pintar, paling hebat, otomatis pendapatnyalah yang paling benar. Padahal tidak menutup kemungkinan orang lain yang berbeda dengannya juga benar, atau sesungguhnya dia tidak lebih pintar dari mereka.

Perbedaan pendapat, pandangan, dan pemahaman adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya kita menghargainya, karena kita tidak selalu pintar, tidak selalu hebat. Dalam beberapa hal kita hebat, tapi di lain hal belum tentu kita bisa. Dalam beberapa hal kita hebat, tapi dalam hal lain kadang kita membutuhkan koreksi orang lain.

Posted By Zubair Abdurrahman