Terkadang diri ini malu tatkala menyatakan tunduk, berserah diri dan patuh pada_Nya, tapi pada kenyataannya sangatlah jauh dari apa yang kita nyatakan. Sahabat, sudahkah kita mendeteksi hal demikian karena kita senantiasa berucap janji, setidaknya 17 kali dalam sehari namun demikian, kita kadang atau bahkan tak pernah paham akan janji-janji kita sendiri, karena seringnya kita melalaikan janji itu.

Entah karena kurang paham atau mungkin tidak tahu atau bahkan tidak ingin memahami, sepertinya janji-janji yang kita ucapkan sebanyak 17 kali dalam sehari-semalam itu hanya lewat begitu saja meluncur dari bibir manis kita, tanpa sedikitpun menyentuh kedalam relung mahkota jiwa, janji yang kita ucapkan hanya melintas begitu saja dengan mudahnya bagaikan air mengalir dengan membawa tumpukan kayu melintasi sang menteri badan yaitu pikiran. Namun janji itu tak pernah bisa dilaksanakan oleh sang raja hati.

Ya, kita sering mengucapkan janji itu, tahukah sahabat apa janji yang sering kita ucapkan namun sering pula kita lalaikan bahkan gampang sekali kita lupakan. Yaitu janji bahwasanya kita haruslah senantiasa meminta hanya kepada_Nya, benarkah demikian kita sering mengucapkan janji itu?? Benarkah memang janji itu yang kita ucapkan sewaktu kita mengahdap pada_Nya??

Sungguh benar, coba sahabat semua terka dan teliti, setiap kali kita datang menghadap kepada_Nya, seketika itulah kita berucap janji bahwasanya “hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Q.S. 1:5). Sadarkah kita kala mengucapkan itu, atau hanya sebagai pelengkap saja dan sebatas penggugur kewajiban. Betapa tidak ketika kita kesusahan terkadang yang pertama kita ingat adalah makhluk_Nya bukan Dia, ketika kita sakit maka yang pertama kali kita ingat adalah dokter, manakala kita sedang mengalami bocor ban yang pertama kali kita ingat adalah tukang tambal ban, tatkala kendaraan kita mogok maka yang terlintas dalam benak adalah tukang bengkel. Padahal semua itu hanya merupakan wasilah untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam sebuah permasalahan.

Jadi dimana letak Dia?? kadang kita menempatkannya jauh dibelakang semua itu, ketika tertimpa bencana yang hampir mencelakakan kita lantas ada orang yang menyelamatkan kita maka kata yang meluncur dari lidah kita “untung ada kamu” lagi-lagi kita menomor dua belaskan_Nya. Sungguh ada sebuah syair dari Bimbo “aku jauh, Engkau jauh, aku dekat, Engkau dekat”, saya hanya akan sedikit merevisi, sebenarnya Allah tak pernah menjauh dari kita yang ada kita sendirilah yang menjauhkan diri dari_Nya. Tak pernah Dia pergi menjauh dari diri-diri kita, karena sebenarnya diri kita lah yang seringnya menghindar dari_Nya, namun kita sendiri masih tega menuduh dan memvonis bahwa Dialah yang menjauh dari kehidupan kita.

Sungguh, kalau kita renungi bersama bahwasanya Allah itu sebenarnya sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Allah tak kan pernah luput dari pengawasan_Nya terhadap diri kita walau sedetikpun, namun seringnya kita merasa cuek begitu saja. Sahabat marilah kita renungi sedikit dari ucapan janji kita tadi, sudah sejauh manakah kita menepati janji itu.

Ya Allah sungguh diri ini malu karena seringnya mengingkar janjiku sendiri, setiap ucapan yang kami gulirkan hanya melintas begitu saja tanpa mampu masuk mengetuk pintu sang mahkota jiwa yang sudah layu. Ya Rabb, izinkan diri ini bisa lebih mendekat kembali kepada_Mu, karena ku tahu bahwa Engkau tak pernah lari dari diri. Karena, sesungguhnya diri ini lah yang senantiasa menjauh dari kasih sayang_Mu. Sungguh malu diri ini pada Engkau, diri yang penuh dengan debu dan noda, ingin mendekat kepada_Mu. Ya Rabb pemilik hati, perkenankan diri untuk lebih mampu menjaga setiap lintasan hati karena diri merasa sangatlah lemah dan hina. Semoga Engkau berkenan menerima permintaan setiap hamba-hamba_Mu yang ingin mendekat kembali.