31freedom2Freedom, ya freedom. Mungkin itu yang saat ini teramat dibutuhkan oleh semua makhluk-Nya, entah itu tumbuhan, binatang bahkan manusia. Saya pikir malah lebih dominan pada makhluk yang bernama manusia. Dapat juga dikatakan seperti serigala yang hidup dihabitat kancil. Anehh sihh sebenarnya, serigala hidup pada habitat kancil, tapi memang seperti itulah persenggangannya. Tatkala serigala mulai kelaparan, dengan mudahnya binatang itu akan memangsa kancil-kancil disekelilingnya dengan mudah tentunya, dan ketika serigala itu memangsa objeknya serigala-serigala itu pun mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang mesti mereka jalani dan hadapi, berkurangnya persediaan mangsa, mempunyai musuh dari kalangannya sendiri jika salah satu di antara mereka merasa dikesampingkan, dan tentunya kenyang, kenyang membuat mereka sering terlena, serta membuka peluang bagi singa untuk memangsanya jua. Namun semua itu tidak akan mampu tersinergikan dengan nyaman dan baik, tanpa adanya kebebasan, freedom of life.

Entahlah ungkapan di atas termasuk ke dalam penganalogian yang baik atau tidak, tapi yang jelas serigala tidak akan mampu berkarya dalam pencariannya jika tidak memiliki freedom of life. Berbicara serigala sudah barang tentu berbeda dengan pembicaraan kebebasan bagi manusia yang notabene makhluk yang paling sempurna karena dianugrahi oleh Tuhan dengan akal yang kaya akan unsur pembantu kerja manusia, namun yang jelas adalah, kedua makhluk ini sama-sama mempunyai keinginan dan hak yang sama yaitu kebebasan. Freedom of life sangat diupayakan oleh seluruh manusia yang mempunyai akal dan pikiran yang sehat karena kebebasan merupakan titik awal dan utama dalam pengekspresian diri dan akal.

Dari kebebasan, akal dan pikiran mampu berkembang dengan seiring berjalannya kehidupan yang mereka jalani dan yakini. Tempat, lingkungan, keadaan, pola hidup dan lain sebagainyalah yang mempengaruhi bagaimana pola pikir manusia berkembang. Yang saya permasalahkan di sini bukan itu, sama sekali bukan itu, tapi bagaimana pola pikir akan berkembang jika kebebasan suatu anak bangsa tetap masih diobok-obok, masih terpontang-panting. Penjajahan, penindasan, pendustaan, kekerasan begitu mencolok di sana, yang telah menjadi makanan sehari-hari saudara-saudara saya di daerah perbatasan. Bukan, bukan hanya mereka, namun terlebih lagi dengan bangsa saya sendiri.

Di satu sisi nilai-nilai kebebasan, nilai-nilai keadilan dan nilai-nilai kedamaian selalu digembor-gemborkan oleh mereka yang merasa berkuasa dan ingin menguasai manusia dan dunia, namun anehnya di sisi lain mereka sendirilah yang menelan mentah-mentah racun yang bermerkkan madu itu. Di mana letak keuniversalan dari kebebasan jika masih terdapat untaian-untaian penindasan, di mana letak nilai keuniversalan dari keadilan jika masih terlihat pengobok-obokan hak-hak asasi manusia dan di mana letak nilai keuniversalan dari kedamaian jika masih terngiang suara-suara deru-deram tembakan yang membahana. Saya tidak tahu, racun yang seperti apa yang ingin mereka sebarkan dipermukaan bumi. Ayo, mana kebebasan, mana keadilan serta mana kedamaian yang selalu kalian gunakan untuk mengatasnamkan kemanusiaan. Atau memang itu hanya berlaku bagi kalian yang mempunyai tahta dan harta di sana, dan menutup mata rapa-rapat atas manusia lain, dan membuat acuan yang ingin mendapatkan kebebasan dari kalian maka haruslah menjilat kaki dan bertekuk lutut di bawah kekuasaan kalian.

Seperti yang telah diungkapkan di muka, terdapat konsekuensi yang mesti dijalani dan dihadapi oleh makhluk yang mendapatkan kebebasan. Bebas seperti seekor burung yang keluar dari sangkarnya, adakalanya burung itu berhasil menggapai dan mencium untaian bunga, dan adakalahnya burung itu terbang lalu dimangsa oleh sang elang yang lebih perkasa darinya. Begitupun manusia setelah men[di]dapatkannya terdapat konsukuensi-konsekuensi yang harus mereka lalui, dan adakalanya mereka akan berhasil dan juga adakalanya mereka akan terjerumus pada lembah kenistaan. Mungkin saya berusaha menyuarakan sisi negatif dari didapatkannya nilai kebebasan-yang saat ini telah diperuntukkan pada saudara-saudara saya di daerah perbatasan-.

Mungkin hanya kata selamat dan kelegaan hati untukmu saudara-saudaraku. Selamat berkarya dengan kebebasan yang kalian dapatkan setelah beberapa waktu hilang dari permukaan tanah kalian sendiri. Namun jangan lupakan konsekuensi yang mesti dijalani seketika kita telah menemukan kebebasan yang sekian lama telah hilang. Dunia menyambut kalian kembali untuk lebih mersuara dan bersua di kelopak mata jagat raya. Freedom of life telah didapatkan, tinggallah bagaimana kita mengelola gelar itu, tangung jawab, resiko, konsekuesni dan perbedaan sudah pasti akan bermunculan di sana-sini seiring dengan freedom yang kalian raih. Chayyooo.. ^^