hatikunciSebagian manusia di sana-dan mungkin di sini- mengaung dengan beringasnya, mengaung bagaikan singa kehilangan gigi dan taringnya. Saya sedang berfikir dan membayangkan, bagaimana lucunya-mungkin juga bisa dikatakan gokil-ketika terlihat oleh saya singa tanpa gigi dan taring. Mengaung dengan ganasnya namun kehilangan kebuasan yang menjadi performen tersendiri dan terutama baginya. Saya tidak ingin berbelit-belit pada analogi ini, dan tentunya secara tidak langsung memberikan pintu bagi saya untuk lebih bisa membukanya lebih lebar lagi.

Manusia yang berkoar-koar dengan berjuta alasan dan ulasan tentang mereka-saudara-saudara saya di daerah perbatasan-, oh ya, tentunya saya masih mengakui bahwa mereka adalah saudara-saudara saya, yang mungkin membuat manusia-manusia yang saya maksud agak sedikit memuncungkan bibirnya dan mengerutkan  dahinya. Alasan dan ulasan yang-menurut saya-tidak berpangku, bertitik tolak dan berpijak pada segumpal daging yang telah dianugerahkan, hati. Dan tentunya lebih memprioritaskan pikiran, akal, otak, penalaran yang buta, interpretasi subjektif dan lain sebagainyalah, yang tentunya diselimuti dengan egoisme luar biasa. Entahlah apa yang terbersit dalam renungan manusia-manusia itu, aku pun tidak begitu memahami. Yang jelas saya lihat dan dengar terjadinya pengobok-obokan nilai keuniversalitasan keadilan, kebebasan dan kedamaian, padahal di satu sisi merekalah yang sebenarnya menggembor-gemborkan nilai itu, yaa, saya tidak sedang melihat dan membahas konfilk golongan dan lainnya di sana, mungkin juga dapat dikategorikan ke dalam menanggalkan terlebih dulu apa yang melatarbelakangi peristiwa itu. Dan di sisi lain mereka juga yang menelan dan memuntahkan mentah-mentah nilai-nilai itu.

Dalam benak saya jika manusia-manusia itu lebih mengedepankan hati nurani, maka manusia-manusia itu pun akan merasakan ketimpangan dan keganjalan yang terjadi di sana. Mungkin subjetifitas yang lebih dikedepankan oleh manusia-manusia itu dan tanpa melihat nilai objektifitasnya. Meskipun saya tidak menafikan penilaian sebjetifitas itu, karena saya pun yakin bahwa penalaran dan interpetasi semacam apa pun berkaitan erat dengan nilai subjetifitas, lingkungan, tempat tinggal, pergaulan dan lain sebagainya juga melatarbelakangi dan yang mempelopori penilaian-penilain manusia. Namun itu semua tidak semerta-merta mengesahkan dan melegalkan untuk mengenyampingkan nilai objektifitas.

Mungkin semua ini berangkat dari keheranan yang tiada hentinya dari diri ini pribadi, melihat dan mendengar manusia-manusia itu yang mengungkapkan alasan yang-saya rasa-terlalu dogmatis, dengan menutup telinga atas ulasan dari lawan-rival-manusia-manusia itu. Terlepas dari apakah manusia-manusia itu hanya sekedar mencari sensasi dan menyuarakan aspirasinya, saya pun tidak mengerti. Yang saya pahami saat ini hanya tidak sampai hati melihat saudara-saudara di sana tidak mendapatkan nilai-nilai pri-kemanusiaan.

“Extrem”. Mungkin kata ini menjadi penting untuk diungkapkan, disematkan dan digelarkan, terlepas dari konsekuensi yang seharusnya dipenuhi. Bagaimana tidak, singa yang tidak mempunyai gigi dan taring itu berkelakuan layaknya srigala-srigala yang sedang melihat dan memangsa dengan lahapnya buruannya, yang notabene sesamanya. Yaa, kembali lagi pada hati, berbicara hati tentu tidak lepas dari rasa dan perasaan shahibul hajah, tapi saya tidak tahu mungkin mereka tidak mempunyai hal-hal itu, mungkin juga menutup mata untuk tidak menerima dan menanggalkan atribut manusiawi itu. Sekali lagi saya tidak begitu mengetahui dan memahaminya. ^_*