hand_holding_baby_hand-otherBerbicara manusia. yaa, manusia, memang merupakan sebuah interpretasi yang selalu bergantung pada manusianya sendiri. Di satu sisi, seperti apa ia ingin mendeskripsikan dirinya sendiri dan di sisi lain, tak mampu melepaskan apa yang menjadi orientasi dari penialian atasnya pribadi. Dalam hal yang demikian, tentu itu akan menyuarakan apa yang dapat dikatakan dengan suara yang nihil didengar, semestinya seperti itu-menurut saya-. Tapi saya rasa tidak sepenuhnya demikian, yang saya tahu justru sebaliknya, manusia menyuarakan apa yang semestinya tidak disuarakan oleh manusia dan menggemparkan-menggemborkan apa yang telah bersuara sebelumnya.

Demikian, terdapat satu titik dari manusia yang entahlah sering disebut dengan apa. Titik itu-saya rasa-merupakan pusat dari manusia yang terdiri dari beragam-macam unsur, yang sering tidak [ter]dihiraukan oleh sang pemilik titik itu. Ohh yaa, saya mengerti titik itu sering disebut dengan apa, hati, ya benar titik itu adalah segumpal darah-darah beku-yang sering disebut dengan hati. Semuanya tentu mengetahui dan memahami apa itu hati, di mana tempat manusia seharusnya bertitik pijak dan bertitik tolak. Namun itu di sati sisi, belum dengan sisinya yang lain, nahh, mungkin ini yang telah saya maksudkan di atas. Membingungkan benar jika terus berkutat pada apa yang selalu diinterpretasikan oleh manusia itu sendiri-anggapan saya-. Namun akan lebih membingungkan berkelana di dalam satuan perhitungan yang belum pernah disuarakan.

Satu sisi yang saya pahami tentang sisi lain dari segumpal darah itu, perlindungan, yaa perlindungan. Sebuah tempat yang menjadi titik tolak dan titik pijak sudah barang tentu mampu menjadi pengayom bagi yang menyuarakannya. Bukankah manusia tercipta, bersimpuh, hidup dan kembali dari makhluk-Nya, sari-pati tanah-salah satunya-. Dengan kata lain manusia bertitik tolak dan bertitik pijak pada sari-pati tanah itu jika berbicara tentang penciptaan-Nya. Nahh, pada akhirnya manusia menjadikan tanah sebagai tempat perlindungannya seketika ia kembali pada asalnya.

Demikian pulalah-dapat dikatakan-dengan hati. Semestinya menjadi tempat pelabuhan, dermaga sekaligus acuan dan dasar pengaspirasian dari apa yang dirasakan oleh manusia, tanpa membunuh kemanusiawian sebagai manusia. Agar apa yang menjadi untaian-untaian gerak manusia menjadi diterima pada semua golongan unsur dari kehidupan. Hati mampu tersinergi dengan adanya secumpuk bekal yang jelas, dan tentunya bersih dari apa yang menjadi unsur yang mewarnai kehidupan manusia. Senjata yang ampuh dan mujarab jika dijejerkan dengan sifat-sifat manusia yang bebas dari tumpukan-tumpukan keperluan pemuas nafsu belaka, yang mampu menjadi sebuah tempat perlindungan dari mara sebuah kehidupan.