10_sketsa-4-wanita1Baru-baru ini terdengar oleh kita kasak-kusuk yang melibatkan salah satu bupati pada daerah yang ada di negara kita Indonesia. Mungkin tidak perlu lagi kita menyinggung perihal apa itu, karena setiap kita-saya rasa-telah mengetahui dan memahami dalam perihal apa salah satu pimpinan pada suatu daerah terjerat kasak-kusuk itu. Bukan hanya sekedar kasak-kusuk biasa ketika didengarkan oleh pendengaran kita, namun dapat disebut dengan kasak-kusuk yang luar biasa. Tanpa adanya toleransi sang bupati itu pun menuruti apa yang ia kehendaki dan inginkan, yang tentunya berujung pada kerugian-kerugian yang ia sendiri rasakan. Sadar ataupun tidak, fenomena semacam ini terjadi dan menjadi cacatan sejarah penting pada bangsa kita. Entah apa yang melatarbelakangi perbuatan semacam ini dapat terjadi dan dilakukan, namun yang jelas kebobrokan moral dan perbuatan yang tidak berorientasi pada etika telah menjangkiti bangsa yang pada awalnya menyelinap pada jiwa para pemimpin bangsa dan merambah pada rakyatnya.

Berbicara kasak-kusuk di muka, tentu tidak dapat melepaskan diri dari peranan kaum hawa itu sendiri. Di satu sisi mungkin kaum hawa tersebut yang menjadi korban, namun di sisi lain tidak sedikit kaum hawa yang memang benar-benar mempunyai orientasi dan menginginkan demikian. Akan lebih ironis lagi jika wanita itu menikmati hal yang demikian. Lagi-lagi entahlah apa yang melatarbelakangi hal semacam itu dapat terlaksana, jika dipikirkan lagi, hal demikian itu merupakan hal yang sensitif, baik secara moral maupun amoral, secara tidak langsung tentunya mengobok-obok moral dan etika manusia, dan yang lebih miris lagi karena peristiwa itu dilakukan oleh-yang semestinya menjadi-panutan yang sedang dipimpin olehnya.

Jika memang perihal-perihal yang demikian merupakan sebuah upaya pencarian inspirasi belaka, maka sungguh tragis. Jika memang perihal yang deimikan itu merupakan sebuah kesalahan karena “lupa”, seperti apapun itu tentu tidak dapat dibenarkan. Jika memang karena nafsu, maka pada titik inilah manusia akan dapat lebih hina dari pada binatang. Pembenaran-pembenaran akan muncul apabila memang sebuah perkara mempunyai unsur yang jelas, bukan hanya pembenaran dari diri sendiri, namun lebih dari itu pembenaran yang di nilai melalui etika sebagai manusia, yang secara langsung maupun tidak dapat memberikan dampak ‘baik’ yang berkepanjangan.

Kali ini-saya-bukan bermaksud untuk menjustifikasi kaum hawa, tapi yang jelas-yang saya ketahui-kaum hawa  mempunyai peran besar terjadinya peristiwa semacam ini. Lalu siapa yang disalahkan, apa pernyataan-pernyataan di muka dapat melegalkan untuk memberikan tongkat kesalahan pada salah satu pihak saja, tentu saja tidak demikian. Hal demikian muncul dan terjadi karena adanya dua belah pihak yang mempunyai keterkaitan yang nyata, dengan demikian maka keduanya-mungkin-akan masuk dalam kategori ‘salah’.

Kaum hawa mempunyai unsur-unsur dan kodrat yang disadari maupun tidak. Menjadi yang pertama, kedua, ketiga dan keempat, itu semua telah menjadi [di]kodrat[kan] atas kaum hawa, dan tentu yang demikian itu mempunyai dasar yang jelas, yang diambil dari kitab suci kita dan dari ‘tatbiq’ suri tauladan kita dengan konsekuensi yang harus dijalani oleh kaum adam. Serta-mungkin-akan lebih indah dan manusiawi jika kaum hawa ditempatkan pada status demikian, jika harus dijejerkan dengan status yang telah kita ketahui bersama, seperti yang dilakukan oleh pemimpin salah satu daerah di Indonesia.

Memang dijadikan yang kedua, ketiga ataupun yang keempat tidak akan mampu diterima oleh semua kaum hawa, meskipun masih ditemui di sana-sini yang menerima status itu, namun itu semua merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh jika dibandingkan dengan hal yang tidak bermoral dan beretika. Harga diri seorang kaum hawa akan lebih mulia tentunya. Lalu siapa yang dapat disalahkan??

Perihal yang bertitik tolak dan bertitik pijak pada kehormatan dan kemanusiawian pada koordinat tertentu akan lebih dapat diterima dari pada mesti melakukan pengobok-obokan nilai-nilai harmonis. Lalu siapa yang mesti disalahkan??