hari-ibuBukan begitu saja manusia terlahir di muka-bumi ini, dan bukan tanpa perantara tentunya. Bukan hanya manusia namun juga makhluk lain yang ada dan hidup di sekeliling kita. Tuhan tahu apa yang menjadi kebutuhan makhluk-Nya baik jasmani maupun rahaninya. Manusia diciptakan dengan dianugerahi kasih sayang, dan secara manusiawi makhluk-Nya membutuhkan kasih sayang dari makhluk lain. Manusia mampu memeberikan kasih sayangnya kepada sesama yang ia kasihi sepenuhnya, karena naluri manusia memang berorientasi pada kasih sayang.

Manusia merupakan ‘hamba’ dari kasih sayang, hati manusia akan luluh jika telah mendapatkan kasih sayang dari sesamanya, siapapun itu, bagaimanapun ia dan apapun caranya. Buah dari kasih sayang teramat agung untuk diprediksikan serta direnungkan, yang jelas manusia akan ‘menghamba’ pada kasih sayang yang ia dapatkan dari sesamanya.

Lalu siapa dan yang seperti apa yang telah memberikan kasih sayangnya pada anak manusia seperti kita ini?? Apakah itu hanya sebatas pada lawan jenis kita, atau memang kasih sayang yang seperti itu dan dari sana yang benar-benar berhak mendapatkan kasih sayang balasan?? Adakalanya memang ‘benar’, dan adakalanya jua ‘salah’. ‘Benar’ tatkala anak manusia pada titik koordinat tertentu sedang mencari dan ingin menyempurnakan jati dirinya, dengan pencariannya pada lawan jenis, dan ‘salah’ ketika disejajarkan dengan kasih sayang yang lebih agung dan lebih berhak mendapatkan kasih sayang balasan.

Pada hari-hari tertentu mungkin mempunyai catatan sejarah penting tersendiri bagi manusia, setidaknya bagi diri kita sendiri. Sekaligus sebagai [mem]peringa[ti]tan, tanda, batas dan waktu bagi peristiwa-peristiwa tertentu, yang mengenal ruang serta waktu tentunya. Namun tidak untuk kasih sayang yang tidak mengenal ruang dan waktu, yang akan terus mengalir sampai kapapanpun dan keadaan apapun itu.

Lalu kasih sayang siapa yang tak mengenal ruang dan waktu itu?? Yang sudah barang tentu lebih berhak untuk mendapatkan kasih sayang kita jua. Kasih sayang seorang ‘IBU’ yang tidak pernah mengenal ruang dan waktu, bagaimanapun dan kapanpun itu. Tak akan pernah terganti dan terbalaskan butiran-butiran kasih dan sayang yang selalu ia berikan, meskipun pada setiap detik kita menyebut-nyebut namanya dan kasih sayangnya. Begitu mulianya seorang ibu dan begitu tingginya derajat seorang ibu, dengan demikian sangat wajar dan merupakan keharusan jika derajat seorang ibu lebih tinggi apabila dibandingkan dengan seorang ayah. Ibumu, ibumu dan ibumu, begitu ungkapan Rasul.

Bukan hanya hari ini semestinya kita mengagungkan, memperingati, menandai dan menyuarakan begitu mulianya kasih sayang sesosok ibu di hadapan dunia. Hal ini bukan hanya sebatas ungkapan yang berisfat dogmatis, namun merupakan konsekuensi dan pempriorotasan karena kita telah mendapatkan kasih sayangnya yang teramat agung. Umbaran-umbaran kata yang menyatakan dan manyuarakan kasih sayang seorang ibu dengan mengatasnamakan cinta terngiang di sana-sini pada hari ini, dan hal itu membuatku berpikir apa hal semacam ini mempunyai pembenaran yang logis serta ‘unik’.

Hal yang tidak ada duanya dan mempunyai cirri tersendri dapat dikatakan ‘unik’, begitupun dengan kasih sayang seorang ibu, namun kasih sayangnya lebih dari sebatas ‘unik’, dan oleh sebab itu tidak perlu dibenarkan dengan yang ‘keunikan’ pula. Mengapa mesti hanya hari ini suara-suara anak manusia menyuarakan yang membuat bersua oleh daun telinga dan mata ini kasih dan sayang seorang ibu. Kasih sayang itu ‘relatif’, ya saya katakan, namun tidak untuk sesosok ibu, di sana-sini dapat dijumpai pembenaran-pembenaran yang berorientasi pada kasih sayangnya yang tidak mengenal ruang dan waktu, bagaimanapun serta kapanpun, baik itu dari sunnah maupun nash-nash-Nya.

Bukan hanya hari ini semestinya hal semacam itu digembor-gemborkan dengan sifat dogmatis, pada setiap detik kita semestinya. Maka berbanggalah wanita-wanita yang telah menjadi ataupun yang akan menjadi sesosok ibu di belahan muka bumi ini, karena engkau adalah ‘unik’, dan eksotik, yang dapat memberikan kasih sayang tanpa mengenal batasan ruang dan waktu. Bukan hanya hari ini engkau diagungkan, kemaren, esok, lusa akhir zaman serta hari kemudian engkau akan selalu diagungkan, dengan hanya memberikan kasih dan sayang sebagai perniagaan untuk buah hatimu.

Terima kasih ibu.