603142_10151272907268600_1868805523_nManusia telah dikaruniai akal dan rasa yang-semestinya-peka dengan keadaan dan apa yang terjadi di sekelilingnya, termasuk saya, yaa termasuk saya, dan juga engkau di sana. Dengan keadaan yang diberikan dan terjadi, rasa dan akal kita mencerna apa yang sebenarnya dikehendaki oleh sesuatu kejadian tertentu, meskipun keadaan dan akal itu sendiri yang memaksa untuk merenunginya, bukan secara otomatis dan dogmatis rasa-logika mampu dengan mudah mengekspresikan serta mengsinergikan apa yang telah terjadi, yang dirasakan dan dipikirkan oleh panca-indera manusia berupa rasa-logika. Pada setiap peristiwa-yang kita alami dengan seseorang-jelas memerlukan nilai-nilai sinergitas untuk menyikapi dan merenunginya, meskipun apa yang telah kita aktualisasikan tidak serupa dan sempurna sepenuhnya dengan yang telah menjadi ilusi kita sebelumnya.

Tidak cukup dengan mantera “bim salabim abrah kadabrah” saja untuk mampu menyesuaikan keadaan dengan hati nurani yang kita miliki, tentu itu semua memerlukan sosok lain yang kita anggap mampu menerima keadaan kita, karena dengan itu kita mampu menyuarakan dan mendapatkan kekuatan lain dari dalam sosok lain, yang mungkin saja itu dapat membatu kita untuk menyesuaikan dengan keadaan hati nurani kita yang sebenarnya. Tidak mudah, ya memang benar-benar tidak mudah untuk kita mencari sosok yang benar-benar mampu menerima yang akan mampu memberikan sinergi baru untuk rasa-logika yang kita miliki. Dengan berbagi akan mengurangi dan membantu menyelesaikan rumus-rumus yang mungkin kita anggap rumit dalam kehidupan kita.

Kembali pada pelajaran kita sewaktu masih duduk di bangku MTs atau SMP, bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang diakui maupun tidak manusia merupakan makhluk yang membutuhkan sosok lain, saling membutuhkan dengan kata lain. Tentu kita tidak akan mampu untuk menafikan dan mengingkari itu semua. Saling membutuhkan satu sama lain bukan hanya untuk menerima kita dalam keadaan yang sesuai dengan sosok lain, namun juga saling membutuhkan tatkala keadaan kita tidak sesuai dengan prinsip-prinsip serta rumus-rumus kehidupan yang lain.

Tentu setiap manusia memiliki patokan yang menjadi etika, nilai-nilai privasi dan komitmen tersendiri, yang tidak dapat dijamah oleh yang lain, namun itu semua mesti sesuai dengan uraian-uraian dasar perjalanan hidup manusia secara universal, tidak secara dogmatis bahwa inilah yang mengilhami jati diri kita masing-masing, karena setelah kita mempunyai nilai-nilai universal barulah kita mempunyai acuan-acuan tersendiri yang berdasarkan pada nilai-nilai universalitass itu. Jika sebaliknya tentu akan adanya kerancuan di dalam diri kita sendiri dalam menyikapi yang mampu mengilhami prilaku kehidupan kita.

Yaa, untuk apa kita hidup di sekeliling manusia lain, namun kita masih sering merasakan kesendirian yang amat. Pada satu titik koordinat tertentu manusia harus sendiri dan juga pada satu titik eksistensi tertentu manusia juga semestinya menyadari bahwa ia hidup pada lingkungan manusia yang saling mempunyai keterkaitan dan saling membutuhkan. Sendiri tatkala mungkin uraian-uraian etika kita yang berdasarkan pada keuniversalitasan mendapatkan ‘terjangan’ eksternal, yang membutuhkan pengsinergian dan evaluasi kembali akannya. Saling membutuhkan dalam keadaan menyadari bahwa kita merupakan makhluk sosial yang saling berbagi, baik suka maupun duka.

Setidaknya kita mengetahui, di sekeliling kita terdapat banyak lembaran-lembaran kertas putih bersih yang jelas mampu menerima keadaan kita yang tak sesuai dengan ilusi perdana kita untuk menyikapi apa yang akan terjadi kelak. Selembar kertas menjadi penting saat demikian, saat kita tidak atau pun belum menemukan yang lain, yang mampu mengilhami kita menyikapi esensi dari sebuah permasalahan. Selembar kertas dapat menerima suara kita dengan ketenangannya, yang jelas akan membuat kita lebih merasa bahwa kita tidak sendiri.

Saya pun tidak mengetahui di manakah akhir cerita ini, berharap akan ada bias dari kejadian yang membuat kita mengerti dan mampu mengsinergikan dengan sempurna apa yang menjadi esensi dari sebuah peristiwa alami-raya itu.

Entahlah harus pada siapa lagi saya mengadu, harus bagaimana dan harus seperti apa?? Tanda tanya besar yang selalu ada di dalam benakku. ^^

Kamarku syurgaku. 13:35 clt. Cairo, 12 Januari 2013. Di musim dingin yang menusuk tulang ini.