love-babyManusia mampu bergerak begitu lancarnya dengan hanya menggunakan tekat serta keinginannya yang keras, konsep itu bertitik pijak pada ungkapan ‘manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling beruntung dan sempurna, sehingga mempunyai eksistensi dan kekuasaan penuh terhadap kegemilangan yang telah dan akan manusia raih’. Ungkapan di atas memang tidak sepopuler dan sefamiliar ungkapan-ungkapan para motifator ulung, karena ungkapan itu hanya keluar dari lisan manusia yang tiada mempunyai eksistensi apapun pada kancah proporsional pada bidang tersebut. Namun tidak begitu saja ungkapan itu dapat menjadi sebuah acuan dan pijakan, karena ungkapan tersebut memiliki konsekuensi yang menjadi tahapan tersendiri sebelum mampu mengaplikasikannya dalam metode dan komitmen untuk kehidupan kita. Dan konsekuensi itulah yang menjadikan kuatnya ungkapan tersebut.

Ketika manusia merasa dianugerahi menjadi makhluk Tuhan yang paling beruntung dan sempurna, maka menjadi penting untuk tidak hanya sekedar menikmati pengakuan itu, bukan hanya menjadi penting, mungkin juga menjadi sebuah keniscayaan untuk memperlihatkan serta membuktikan, ‘ini lho yang benar-benar dikatak manusia itu’, dengan diiringi pengsinergian nilai-nilai universalitas kesempurnaan dan keberuntungannya. Tentu ‘gelar’ itu menjadi beban tersendiri dan memiliki pertanggung jawaban yang-bisa dikatakan-tidak biasa untuk kebersinambungan buah dari predikat itu. Serta kemudian akan benar-benar teraplikasi kekuasaan penuh untuk dapat meraih kegemilangan yang diraih dikemudian. Terdapat proses dan esensi di sana.

Bagi saya ungkapan itu setidaknya mempunyai energi tersendiri yang mampu mengilhami dan menganugerahi bayangan-bayangan tanpa batas yang berorientasi pada guncangan-guncangan yang akan menerjang garis khatulistiwa cita-cinta manusia. Kemudian, ungkapan itu-saya rasa-dapat dijadikan sebuah acuan dalam proses pendewasaan diri melalui segenggam masalah yang mungkin dihadapi saat ini atau silam.

‘Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling beruntung dan sempurna, sehingga mempunyai eksistensi dan kekuasaan penuh terhadap kegemilangan yang telah dan akan manusia raih’, hemat saya ungkapan ini juga dapat ditarik kepada kisah-kasih cinta kita, karena manusia tidak dapat luput dari cinta yang telah menjadi anugerah dan fitrah bagi manusia. Penarikan esensi dari ungkapan itu ke dalam hal yang berorientasi pada cinta tentu menjadi mungkin, karena saya rasa berawal dari cinta yang akan bermuara pada kekuatan untuk meraih kegemilangan. Terdapat banyak manusia-manusia berhasil dan sukses dalam eksistensinya yang berawal dari kecintaannya terhadap apa yang ingin manusia itu gapai, dan cinta menjadi jalan tengah tersendiri bagi kenyamanannya terhadap sesuatu itu, meski dengan ‘memperkosa’ realita yang lang sung bersnggungan dengan keadaan yang tengah manusia alami.

Ketika manusia telah menaruh cinta pada apa yang ingin ia raih, maka sudah barang tentu dan menjadi sebuah keniscayaan mendapatkan balasan cinta dari apa yang ingin manusia buktikan lewat cintanya. Jika tidak demikian, mungkin dapat dikatakan ‘sama saja dengan bertepuk sebelah tangan’, maka pada titik inilah pertimbangan aka hal itu menjadi sangat urgen. Bukan hanya cita dan keinginan yang dapat dikategorikan kedalamnya, namun juga cita-cinta manusia terhadap lawan jenis. Keniscayaan yang menjadi problematis jika tidak mendapatkan sebuah balasan yang setimpal.

Jiak berbicara cinta, tentu terdapat uraian pada benak manusia dengan langsung bersinggungan terhadap hati dan perasaannya, meskipun perasaan dan hati tidak mampu diuraikan dengan rumus-rumus metafisika-logika, namun itulah yang dialami atau akan dialami pada kehidupan dan keeksistensian manusia. Karena cinta-logika bukan hanya sekedar untuk didefinisikan, namun lebih untuk menjadi sebuah pelajaran yang akan  dirasakan.

Serta menurut hemat saya, jika memang benar-benar cita-cinta manusia tidak mendapatkan sebuah balasan yang setimpal, maka lebih baik manusia yang bersangkutan mencari cita-cintanya pada titik koordinat dan daerah otonom lain, yang mampu menerima dan memprioritaskan cita-cinta manusia dengan benar-benar bermuara pada cinta-logikanya jua, karena dari cita-cinta yang memiliki balasan dapat membawa manusia pada puncak keindahan mahligai cinta-logika manusia. Tentu begitu pun sebaliknya.

Pendekatan melalui metafisika-cinta yang manusia gunakan semestinya demikian, karena timbal-balik dari kedua unsur menjadi penting ketika manusia berani menaruhkan cita-cintanya-lawan jenis khususnya-.

Permintaan maafku untukmu yang di sana. ^^