6Manusia mempunyai beberapa unsur yang bersinggungan langsung dengan adanya ‘fitrah’ yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Tentu di dalamnya terdapat dorongan internal maupun eksternal yang akan mengsinergikan input dan output yang menjadi ‘ciri khas’ dari manusia itu sendiri. Yang dimaksudkan pada titik eksistensi ini merupakan sanggahan dari peranan manusia itu sendiri terhadap apa yang dikehendaki dan direalisasikan oleh manusia, terdapat kelompok yang menyatakan bahwasannya, manusia tidak mempunyai andil sedikit pun dalam pengakulturasian dari apa yang menjadi prilaku dan tingkah laku manusia, ini merupakan titik ekstrim dari mind sate di atas, dari pandangan tersebut juga terdapat kelompok yang menyatakan bahwasannya menusia merupakan subjek yang vital dalam penentuan epistemologis dari apa yang menjadi output dari manusia, tanpa adanya unsur ‘tangan Tuhan’ dalam segala hal.

Merupakan sebuah karunia yang agung akan adanya ‘fitrah kemanusiwian’ yang ada pada diri manusia, betapa tidak, dari sana manusia dapat merasakan dan membedakan mana yang benar-benar bertitik pijak pada estetika-fitrah sebuah kenikmatan, dan kenikmatan mana yang-niscaya-bertitik pijak pada fitrah manusia sebagai hamba Tuhan. Baik dari penuaian ‘fitrah kemanusiawian dan fitrah sebagai hamba Tuhan’ tentu terdapat nilai-nilai internal dan eksternal dari keduanya. Nilai internal terdapat dalam waduk dan cawan yang menjadi keseharian manusia itu dalam kebiasaanya, nilai baik dan buruk ada pada titik ini. Nilai internal terdapat dalam dorongan jiwa manusia itu sendiri dalam menyikapi dengan indah ‘fitrah manusia sebagai hamba Tuhan’, nilai ‘ketaatan dan kekufuran’ mempunyai proposisi dalam ranah ini.

Di antara ‘fitrah kemanusiwian’ adalah adanya subjetifitas dan objektifitas dalam cintanya pada sesama. Kelegalan cinta pada sesama didasari dari nilai ‘fitrah’ yang dimiliki oleh manusia, baik itu ‘fitrah sebagai hamba Tuhan, maupun fitrah kemanusiwian’ itu sendiri, jika terdapat manusia yang menyanggah ungkapan ini, maka bukankah Tuhan mengisyaratkan unsur cinta pada sesama merupakan salah satu nilai aplikatif dari keimanan, meskipun pada akhirnya akan ditarik pada pengejawantahan ‘fitrah manusia sebagai hamba Tuhan’.

Sisi kemanusiwian kali ini memang tidak dapat disinyalir kedatangan dan keberadaannya, dan sisi ini juga tidak dapat diprediksi kebesarannya, tanpa adanya pencarian sampai pada titik mana nilai keyakinan manusia dalam fitrah cintanya pada sesama dan pemupukan nilai batin yang semestinya lebih ditekankan.

Ketika berbicara akan cinta, tentu manusia tidak dapat luput darinya, yang bertabrakan langsung dengan keeksistensian batinnya. Peranan batin pada fitrah cita manusia bagai tali yang memerlukan simpul dan ujung, apakah dapat disebut dengan tali, jika tidak mempunyai simpul dan ujung, tentu akan kehilangan esensi dan pendiskripsian akan fungsi tali. Begitupun halnya dengan cinta, jika belum mempuyai ikatan dan keterkaitan batin (‘Alaqah bathiniyah) antara manusia yang saling mencinta, maka semestinya dipertanyakan akan kesugguhan dan kebenaran cintanya. Sebelum beranjak pada keterkaitan batin yang sebenarnya itu berkaitan dengan input dari dalam ‘fitrah kemanusiwian dan fitrah sebagai hamba Tuhan’ akan terdapat fase yang melarbelakangi timbul dan suburnya persinggahan cinta, tentu terdapat interaksi fisik yang penah ditempuh sebelumnya, entah itu melalui fisik dalam artian non-materi, ataupun interaksi fisik dengan fisik secara langsung.

‘Alaqah bathiniyah merupakan titik tertinggi sebelum mencapai titik pemersatuan akan keeksistensian cinta antara keduanya, meskipun pada titik pemersatuan ini tetap membutuhkan ‘Alaqah bathiniyah. Itulah sebabnya mengapa kita-umat Muslim-mencintai Rasulullah Muhammad Saw. meskipun tidak pernah mengalami interaksi fisik dengan fisik secara langsung (Face to face) dengan keharibaannya. Namun demikian kita-umat Muslim-sangat jarang untuk menemukan di antara umatnya yang mempunyai ‘Alaqah bathiniah dengan keharibaannya. Karena inilah manusia, yang memerlukan epistemologis dari unsur manusia yang mayoritas terbentuk dari fisik.

Namun demikian bukanlah sebagai dalih yang benar-benar akurat untuk menjustifikasi pemersatuan akan keeksistensian cinta antara manusia yang saling mencintai tanpa adanya persenggangan dan interaksi langsung secara fisik, karena-diakui maupun tidak-terdapat kelompok yang berasusmsikan bahwa cukup dengan benda yang bersangkutan langsung dengan sesama yang manusia tuju untuk menaruhkan cintanya, mungkin bahasa oral yang-menurut saya-fulgar adalah, cukup melihat fotonya maka cinta manusia akan timbul dengan sendirinya. Hal semacam inilah yang semestinya dipertanyakan ulang, jika mereka berdalihkan bahwa, ketika indera penglihatan manusia melihat sesamanya-yang berlawanan jenis tentunya-tidak sepenuhnya mengisyaratkan akan pembenaran-pembenaran cinta. Dengan demikian, maka sesungguhnya ini merupakan celah dari keyakinan meraka, bukankah foto yang mereka lihat merupakan bentuk lain dari panampakkan fisik?? Ya benar tentu saja. Foto merupakan bentuk fisikal dan visual.

Secara tidak langsung, mereka telah menelan mentah-mentah dari apa yang mereka muntahkan sendiri. Tidak cukup berlandasakan pada insting yang dibangun, lalu dapat serta-merta timbul fitrah kemanusiwian berupa cinta pada sesama. Karena manusia bukan unggul dan mulia karena insting yang dimilikinya, namun dengan akal yang dapat mencerna sekelilingnya, manusia dapat disebut dengan manusia. Pembicaraan akal pada ranah ini tentu akan berkaitan langsung dan tidak langsung dengan hati manusia, serta hati pada titik ini dapat dikategorikan pada batin, jika tidak demikian-saya rasa-, akan muncul sangat banyak pertanyaan-pertanyaan yang meragukan akan cintanya.