imagesPada lingkungan Mahasiswa, tentu tidak dapat terlepas dari sebuah wadah yang mampu dan sekaligus dijadikan tempat menampung aspirasi mahasiswa. Dengan kata lain, pada tempat itulah mahasiswa mampu mengekspresikan dan mengembangkan dirinya, entah itu organisasi yang bersifat internal maupun eksternal. Orientasi yang bersifat internal yang didorong dari dalam diri mahasiswa itu sendiri dan orientasi yang bersifat eksternal yaitu wadah yang mampu menampung dan mangaktualisasikan apa yang menjadi dorongan dari dalam diri mahasiswa.

Pada lingkungan mahasiswa yang mempunyai orientasi bukan pada kuantitasnya, namun juga berorientasi pada kualitas mahasiswa, tentu akan ditemukan titik korelasi antara intern dan ekstern kemahasiswaan. Dari pandangan ini maka muncullah organisasi-organisasi yang berkecimpung di dalam lingkungan mahasiswa yang tentunya dapat menunjang nilai intelektualiatas bagi mahasiswa yang bersinggungan langsung dengan organisasi dan perkumpulan itu.

Dari uraian-uraian di muka, tentu kita sadar, bahwasanya kita sedang berada dan hidup pada lingkungan mahasiswa, terlebih bukan berada di dalam negeri sendiri yang dapat kita taklukkan lingkungan hidup mahasiswa di sekeliling kita, di luar negeri, pada negara yang tekenal akan sejarahnya, Mesir tepatnya. Mahasiswa Indonesia yang sedang tinggal dan hidup di Mesir (Masisir), lebih dikenal demikian, juga tidak dapat lepas begitu saja dari perkumpulan-perkumpulan dan organisasi-organisasi yang eksis dan diakui keberadaannya pada lingkungan tempat Masisir mengekspresikan apa yang menjadi dorongan yang bersifat internal itu.

Pada lingkungan masisir telah dikenal beberapa perkumpulan dan organisasi kemahasiwaan yan–dapat disebut-mengayomi dan memobilisasi orientasi intern mahasiswa yang ditampung oleh organisasi eksternal yang ada. Perkumpulan dan organisasi yang ada memiliki bermacam-macam orientasi akan keeksistensiaannya, antara lain; perkumpulan mahasiswa yang berorientasi pada peningkatan nilai intelektualitas mahasiswa, organisasi yang berorientasi pada pengorganisiran kegiatan-kegiatan yang diadakan di dalam lingkungan Masisir, organisasi yang bersifat kekeluargaan, komunitas yang sepenuhnya berorientasi pada pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) dan lain sebagainya.

Sekian banyak dari apa yang dikenal dan diketahui mengenai komunitas, perkumpulan dan organisasi yang berada di lingkungan masisir tentu telah tergambar pada benak kita, dari sekian banyak itu terdapat pilihan yang kita tetapkan dan menuntut sebuah konsekuensi yang semestinya dipahami dan direalisasikan.

Sebagai mahasiswa tentu kita telah mampu bijak dalam memilih, karena sebenarnya kita telah mengetahui, apa saja yang perlu kita penuhi apabila kita telah mendapatkan julukan ataupun predikat sebagai mahasiswa. Tentunya pilihan-pilihan itu semua semestinya dan menjadi sebuah keniscayaan yang menunjang pada kualitas dari nilai intelektualitas sebagai mahasiswa. Apabila pilihan mahasiswa terlabuhkan pada komunitas/perkumpulan/organisasi yang menunjang nilai positif-kognitif mahasiswa, maka dia telah memilih jalan menjadi benar-benar mahasiswa. Karena bukan hanya dari dalam diri mahasiswa sendiri, mahasiswa dapat menjadi positif atau negatif, tentunya juga wadah yang menampung aspirasi internnya ikut serta menentukan.

Jika organisasi Masisir dikaitkan dengan keeksistensian universitas Islam tertua di dunia al-Azhar, tentu keduanya memiliki titik koordinat yang saling melengkapi dalam pembentukan idealisme baik positif maupun negatif dari pola pikir mahasiswa yang ada di lingkungan keduanya. Seperti dikenal, al-Azhar mengajarkan pada anak didiknya untuk memiliki sikap tawazun, tawasuth dan tasamuh dalam menghadapi fenomena apapaun yang terjadi, dan terkhusus pada perbedaan dan persinggangan yang muncul dari dalam tubuh agama Islam. Dan itu semua dapat teraktualisasikan dengan baik apabila organisasi yang berada di dalam lingkungan Masisir tidak bertolak belakang dengan apa yang menjadi esensi akan keeksistensian al-Azhar.

Dari pandangan dan uraian yang digunakan di muka, maka akan tergambar dan terkonsep sedikit banyak dalam ranah imajinatif kita, bahwa organisasi yang bertitik pijak dan bertitik tolak pada payung universitas al-Azhar memiliki peran yang sangat penting akan perwujudan idealisme pelajar dan Masisir. Apabila organisasi, komunitas, dan perkumpulan Masisir bertolak belakang dan bersinggungan dengan esensi al-Azhar, maka idealisme yang terbangun di kalangan mahasiswa pun akan remuk tak terarah.

Dengan demikian, korelasi antara keduanya amatlah erat, al-Azhar sebagai payung dari idealisme-konsep mahasiswa dan komunitas, perkumpulan dan organisasi di sekelilingnya merupakan tempat aplikatif dari payung itu. Maka semestinya organisasi masisir mempunyai etika-konsep dengan baik yang sesuai dengan payung Masisir, al-Azhar, karena tidak semua perkumpulan Masisir benar-benar berorientasi pada payung Masisir itu sendiri, terdapat juga perkumpulan yang bertolak belakang dengan esensi al-Azhar, perkumpulan semacam inilah yang akan merusak idealisme mahasiswa dan pelajar al-Azhar.

Lomba karya tulis pada event KEMASS Week 2013. Cairo, Mesir.