GambarSeperti biasa pada subuh telingaku selalu mendengar suara khas yang tidak asing sedikit pun bagiku. Membangunkan dengan lembut mimpiku di malam hari. Gusar-gusar aku seperti acuh tak acuh menanggapi kelembutan yang teramat kurasakan, dengan mudahnya aku menarik selimutku kembali dan ‘melungeker’ dihadapannya, tanpa menghiraukannya, mungkin aku terlalu meremehkan kelembutan yang saat itu kurasakan, terus menerus telingaku diisi dengan buaiannya,

“Heyy Nak, bangun, Bapak udah nunggu tuhh buat subuh jamaah” dengan lembut dan kasih sayangn aku dibuat olehnya tak ‘nyaman’ dengan tidurku.

“Eeehhh, iya Buk, iya!! Tanpa sadar aku telah membalas kelembutan da kasih sayangnya dengan sedikit kekakuan.

“Ya sudah, Ibu tunggu ya, cepetan, Bapak nanti marah kalau Kakak terlalu lama.

Ahh, tidak kuhiraukan lagi suara seorang Ibu yang membangunkanku dari mimpi indahku. Dengan enaknya aku terus berada di dalam selimutku yang hangat subuh itu. Saat aku melanjutkan mimpiku, yang pada saat itu aku sedang memimpikan artis idolaku dengan keindahan yang dia miliki aku terus terbuai dalam ilusi mimpiku. Tanpa sadar,

“Eehhemm, ehemm, Kakak!! Cepet Bapak tunggu!!

“I I iya Pak. Dengan cepat aku terbangun dari ilusi liar bersama artis idolaku. Mungkin karena aku terlalu segan dengan Bapakku, sehingga mendengar ‘dehemannya’ saja aku langsung tergagap tak jelas berdiri dari pembaringanku yang sangat nyaman itu.

Terik mentari pagi bersinar cerah mengiringi kepergian embun-embun sejuk yang kudapatkan dari Bapakku yang teramat memperhatikanku. Sinarnya seperti sinaran kasih sayang kedua orang tuaku. Seiring cahaya mentari jatuh pada celah-celah dedaunan rindang pepohonan, yang terus menembus celah-celah jendela kamarku sehingga tanpa sadar sinarnya menepuk keningku dengan hangatnya. Suara Ibu yang selalu menghiasi daun telingaku sebagai pengganti lagu-lagu Dewa 19 yang selalu kudengar tatkala aku jenuh.

Aku tahu pagi itu Ibu sedang menyediakan masakan untuk kami santap bersama, aromanya luar biasa, namun aku tetap tertegun kaku di antara jendela kamarku, menikmati indahnya pagi itu.

“Ahh, udah jam 07:00 pagi, aku harus cepat-cepat pergi ke sekolah ni”

“Anak yang rajin, udah mau berangkat ke sekolah Nak??”

Kata-kata itu yang selalu kudengar ketika aku sedang memanasi motor kesayanganku, bahkan mungkin aku lebih sayang pada motorku itu ketimbang dengan keadaan diriku sendiri. Dan bahkan, berkali-kali aku terjatuh dari motor yang nyaris melayangkan nyawaku dengan buasnya, tapi entahlah, aku tetap sayang pada motor-motorku yang berkali-kali ganti karena jatuh dan hancur bersamaku, mungkin itu nurani liarku yang aku pun tak tahu pada saat itu.

“Hehee, iya Buk, udah jam 7 pagi kok, jadi ya siap-siap. Udah mateng Buk sarapannya??” dengan seperti acuh tak acuh aku menanggapi pembukaan percakapan aku dan Ibuku itu, sembari membersihkan debu-debu yang menempel di motor kesayanganku. Dengan tersenyum Ibu menjawab,

“Ya sudah lah Kak, udah dari tadi, tuhh Bapak udah nunggu di dapur, makanya Ibu ke sini, sebenarnya Ibu gak mau ganggu keasyikan Kakak, tapi Bapak udah nungguin buat sarapan pagi sama-sama” dengan lembutnya Ibuku menjawab. Aku pun tidak sama sekali meresapi dan merenungkan kata-kata yang keluar dari lisan Ibuku yang penuh kasih sayang itu.

“Owh, woke dechh, aku meluncur ke dapur segera Buk, Ibu duluan aja, nanggung nihh tinggal dikit lagi” sembari tetap melanjutkan aktifitasku.

Seisi rumahku telah sepi, sepertinya sudah ada di dapur semua seluruh anggota keluargaku, adik-adikku pun tidak terdengar suara canda tawanya lagi. Suara hentakan kakiku pun mengisi ruang demi ruang yang aku lalui, mungkin karena rumahku itu tergolong lumayan besar, jadi ketika semua anggota keluargaku berada di belakang, di dapur tepatnya, nyaris tak terdengar suara apa pun di rumah itu. Dengan bergegas aku terus menuju ke dapur, sembari memutar-mutar kunci motorku di jari telunjuk kananku.

“Hayy sayang, udah bangun kau Dik, mmuuaachh” menyapa sembari mengecup kening adikku yang bungsu, seperti tanpa menghiraukan keberadaan yang lain.

“Hehee, iya Kak. Ehh Kak, aku tadi liat film anak-anak, bagus banget, terus adiknya ngomong sama kakaknya, “Kak, aku mencontoh kakak lho tadi waktu kakak melet-melet ngeluarin lidah kakak sama Mama, kata Mama ehh itu enggak bagus, jangan diulangin!!” terus aku nyoba beneran Kak ke Ibu tadi pagi pas di dapur, kata Ibu juga kayak Mamanya adik kartun tadi, gak boleh gitu, itu gak bagus. Tapi kalau Ibu kita ngomongnya gak sambil melotot, tapi sambil senyum, enggak kayak Mamanya kartun adik tadi, ngomongnya sambil melotot, kan adiknya jadi takut Kak kalau dipelototin yahh”.

Dengan sepontannya adik bungsuku yang baru berumur 4 tahun bercerita demikian denganku, yang jujur membuatku tertegun dan merenung sejenak, apa pantas aku menjadi contoh bagi adik-adikku, dan sungguh, memang Ibuku mendidik kami dengan kasih sayang yang teramat sangat.

“Hehee, ya udah, yukk makan dulu, nanti kita lanjutin lagi ya ceritanya”

Ramenya suara adik-adikku saat makan membuat aku tersipu sendiri melihat tingkah keduanya. Kemudian Bapak membuka percakapan kami ketika makan telah hampir usai, dengan memangku adikku yang paling bungsu beliau berbicara pada kami,

“Kak, mulai bulan depan kita akan pindah rumah. Dari rumah yang besar, ke rumah yang lebih kecil. Rumah kita inikan ada 4 kamarnya, sedangkan di rumah kita yang baru nanti hanya mempunyai satu kamar, itu berarti kalian tidak bisa tidur dengan kamar masing-masing, kalian harus tidur sekamar dengan Bapak dan Ibu, bagaimana menurutmu Kak??”

Bagai tersambar petir dahsyat aku mendengar pembicaraan Bapak di pagi itu, seakan aku ingin lari berbirit-birit berusaha untuk menghindar dan berusaha untuk tidak mendegarkan apa yang sedang Bapak kami bicarakan itu. Apa Aku mimpi??

“Eemmm, kalau aku sihh bagaimana baiknya aja” dengan agak meringis aku terus berusaha untuk tidak menghiraukan pembicaraan pada pagi itu, dan aku juga memang berusaha untuk tidak bertanya, mengapa harus pindah. Dan dengan enaknya adikku yang paling bungsu menanggapinya,

“Yang pindah hanya Bapak sendiri saja??” dengan sedikit mengerutkan dahinya dan mantap mata Bapak dalam. Bapak pun dengan lugasnya menjawab,

“Tidak, kita semuanya pindah, Bapak, Ibu dan kakak-kakak semua” dengan santai dan riangnya adikku pun menjawab,

 “Terus apa masalahnya??”

Jawaban itu membuat hatiku seakan teriris-iris tanpa ampun, tertegun dengan jawaban adikku yang masih sangat polos itu, yang mengisyaratkan bahwa bagaimana pun keadaannya, asalkan anggota keluarga kita masih lengkap, tidak menjadi sebuah permasalahan.

* Teringat akanmu Ayahku. Meskipun engkau tidak nampak dipulupuk mata kami serta tidak bersama-sama kami secara lahir, namun kami selalu merasakan dekapanmu, selalu merasakan keberadaanmu. Dan kami yakin engkau tersenyum melihat kami di sini. Rindu kami akan kami kirimkan seiring dengan desiran angin, agar engkau pun merasakan bahwa kami selalu bersamamu.

Lidah ini kelu, tanpa kata, tanpa busana. Nalar ini Buas, terbakar oleh api-api rindu yang berkobar tanpa batas. Kala ini, hanya buliran-buliran air mata yang terus mengaliri rona pipi ini, sebagai tanda bahwa ia tetap hidup di dalam kelopak sanubari ini. Aku yakin, ia pun demikian. Biarlah tetesan air mata bak hujan yang membanjiri buaian sungai, yang akan menjadi saksi akan hidupmu.

Semenjak itu aku kehilangan dengan ganasnya sosok yang membahana di sanubariku. Dulu aku dan ia menyatu tak terbendung maya, dan tiba-tiba gelap gulita tanpa sinar dan tanpa cahayanya lagi padaku. Aku menangis, aku bersedih dan aku menghabiskan buliran-buliran bening air mata ini tatkala perpisahan itu, tatkala aku kehilangannya, tatkala pelita sanubariku mulai redup. Aku rindu, dan akan selalu merindunya.

Hanya untaian doa diiringi dengan desak tangisku yang dapat ku semaikan pada keharibaan-Nya, berharap ia melihatku di sini, di tanah perjuangan ini, dan merharap Allah menyampaikan salamku pada ia, lewat doa yang dibawa oleh hembusan angin malam, siang, senja dan tak terbatas oleh waktu. Aku merindumu Ayahanda, akan selalu merindumu dengan dihiasi buliran bening air mata yang selalu sayu tatkala mengenangmu.

Andai aku dapat memohon. Ayah haruslah tetap bersama-samaku di sini, karena rasa rindu, kenangan indahmu, kebijaksanaanmu yang selalu  menghampiri disetiap hatiku. Begitu cepat waktu memisahkan kita Ayah. Terlalu banyak kenangan indah bersama cinta kasihmu dan betapa terharunya kami bila mengingat perhatianmu kepadaku, tiada dapat tergantikan oleh yang lain

Allahumma ighfirlahu, warhamhu, wa ‘afihi wa’fu’anhu. Ya Rabb.